Selama Tak Melanggar Syariat NU Rangkul Tradisi Nusantara

Selama Tak Melanggar Syariat, NU Rangkul Tradisi Nusantara

Selama Tak Melanggar Syariat, NU Rangkul Tradisi Nusantara

Ilustrasi

Mahbib, NU Online | Kamis, 04 Agustus 2016 07:15

Sijunjung, NU Online
Nahdlatul Ulama tidak pernah menolak tradisi Nusantara, selama hal itu tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits. Selagi itu budaya positif, NU tak segan mengakomodasi tradisi tersebut dalam kehidupan beragama.

Hal itu disampaikan Ketua PCNU Kabupaten Sijunjung Buya Bustamam Habib pada acara halal bihalal PCNU Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, Rabu (3/8/2016) di Mesjid Raya Baiturrahman Sungai Lansek, Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung.

Buya Bustamam mencontohkan, tradisi halal bihalal yang dilakukan mayoritas umat Islam di Indonesia tidak diterangkan secara eksplisit di dalam Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Namun, halal bihalal ini sangat dianjurkan karena menjadi sarana meningkatkan silaturahim.

Di bagian lain Buya Bustaman menyebutkan, semangat ber-NU terbersit dari nilai-nilai perjuangan NU di masa silam untuk bangsa Indonesia. Selain ideologi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang tertanam di dalam diri setiap individu masyarakat NU juga nilai bahwa NKRI adalah sebuah kajian final untuk sebuah negara yang wajib ditaati oleh setiap warganya. 

Dari awal perjuangan sampai kepada kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945, NU berkomitmen untuk menjaga dan merawat bangsa Indonesia secara utuh. Maka, kecintaan masyarakat NU harus dibuktikan dengan kembalinya ke pesantren dan masjid. 

“Seperti yang kita lakukan pada saat ini. Bukti pertama bahwa PCNU Kabupaten Sijunjung sedang mendirikan pesantren Nurul Ilmi,” kata Buya Busatamam Habib yang juga akan mengasuh dan memimpin langsung pesantren tersebut.

Bukti kedua bahwa PCNU Kabupaten Sijunjung dalam setiap acara dilakukan di masjid mulai dari pelantikan MWC NU sampai dengan perayaan-perayaan hari besar. 

Halal bihalal dihadiri lebih kurang 300 jamaah dengan penceramah Buya Hendri Malin Sulaiman yang juga ulama NU Kabupaten Sijunjung. 

Turut memberikan sambutan Staf ahli Bupati Kabupaten Sijunjung Syahril dan hadir juga Kasi Pontren Kemenag Sijunjung Yoni Hendra, Dandim, MWCNU, camat dan wali wagari setempat. (Armaidi Tanjung/Mahbib)

KALAU ADA ORANG KAFIR ADIL YA TIDAK BISA DISEBUT KAFIR DONG

KHAS–Cak Nun: “Kalau Ada Pemimpin Adil, Ya Tidak Bisa Disebut Kafir Dong”

photo_2016-07-21_22-44-37

IslamIndonesia.id – Cak Nun: Kalau Ada Pemimpin Adil,  Ya Tidak Bisa Disebut Kafir Dong

 

Di depan ribuan pasang mata yang menghadiri acara Mocopat Syafaat, Bantul (17/7), budayawan Emha Ainun Nadjib mengatakan bahwa sebelum Islam datang, orang Jawa telah mencapai sebagian dari khazanah Islam.

“Meskipun (pada masa itu) tidak ada yang dinamakan bank (berlabel) Syariat,” kata pria yang akrab disapa Cak Nun ini mulai menyinggung perbedaan simbol dan substansi.

Penulis buku ‘Slilit Sang Kiai’ ini lalu berbicara tentang khazanah substansial dalam Islam yang telah dijalankan oleh para leluhur khususnya di tanah Jawa seperti ‘Gusti Allah ora sare, mo limo,’ hingga konsep tentang ‘kualat’. Setelah datangnya Islam ke Nusantara, Al-Qur’an membahasakan konsep ‘kualat’ seperti dalam ayat, “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 8)

Namun, menurut Cak Nun, ‘perkawinan’ Islam dengan manusia dengan segala kapasitas sepiritiual dan intelektualnya itu, juga melahirkan ragam tingkatan seorang Muslim. Level pertama adalah Muslim yang keislamannya mengandalkan simbol atau ikon kultural.

“Jadi, Islam itu cukup diwakilkan oleh simbol-simbol kultural.”

Sebagian orang menilai keislaman seseorang jika terlihat memakai jilbab, peci, serban, tasbih dan simbol-simbol lainnya. Lebih dalam lagi, jika telah terlihat beribadah seperti shalat, zakat, atau haji. “Pokoknya, ada tanda-tanda yang terjangkau oleh panca indra.”

Perdebatan pada tahap ini juga hanya seputar tanda-tanda lahiriah. Cak Nun lalu memberi contoh jamaah masjid yang ribut hanya karena perbedaan tinggi-rendahnya tirai pembatas antara pria dan perempuan. Orang yang memiliki pandangan dunia Islam sebatas ini akan kaget dengan realitas tidak berbanding-lurusnya simbol yang dibangga-banggakan itu dengan akhlak mulia.

“Yang penting dia hafal Al-Qur’an, sudah dianggap baik banget. Kemudian kaget, ternyata koruptor juga suka Yasinan. Bahkan, undangan pembagian uang korupsi itu disebut Tahlilan,” katanya sambil kembali menekankan bahwa simbol juga penting tapi Islam tidak sebatas simbolik.

Jika menyelam lebih dalam sedikit, akan sampai pada mazhabiyah. Mazhabiyah indikasinya ideologis, adanya sistem nilai, orang telah berpikir tentang negara Islam atau tidak, kesultanan atau kerajaan dan seterusnya. Tak lupa Cak Nun menyebutkan kelompok-kelompok pengusung khilafah Islamiyah di Indonesia sebagai salah satu contoh.

Sayangnya, tidak jarang kekuasaan yang berperan pada tingkat ini. Cak Nun lalu berbicara tentang fikih yang diejawantahkan sebagai pasal-pasal selama berabad-abad untuk kepentingan penguasa. “Apalagi Anda tahu sifat sejarah. Sejarah itu milik orang yang menang, orang yang berkuasa. Apabila Anda tidak punya kritisisme pada informasi sejarah berarti Anda orang yang kalah.”

Ditambah lagi, kata pria kelahiran Jombang ini, nasib ijtihad dalam umat Islam sudah sangat memprihatinkan. Sampai hari ini, di sejumlah belahan umat Islam berada, pemikiran Islam hampir tidak berkembang lagi.

Pada tingkat selanjutnya bukan lagi simbolik, bukan lagi sistem nilai tapi tingkat ruhani. Cak Nun mencontohkan orang-orang yang mencari kebenaran dan datang ke tempat-tempat diskusi untuk mencari ilmu sejatinya dia datang secara ruhani. “Anda ke sini bukan karena jasad Anda, tapi karena ruhani Anda. Seandainya Anda bisa ke sini hanya dengan ruh, pasti Anda ke sini tanpa jasad.”

Sejauh pantauan IslamIndonesia, malam itu orang-orang yang hadir memadati pelataran tempat acara berlangsung  hingga ke jalan-jalan kampung. Meski dibantu dengan ‘layar raksasa’, masih banyak orang yang tidak bisa melihat langsung para nara sumber di panggung. Mereka itu, kata Cak Nun, tidak lagi butuh melihat wajah pembicara tapi yang mereka cari ialah kebenaran.

Ruhani, menurut Cak Nun, itu pun strukturnya bermacam-macam, dari kulit arinya ruh yaitu kesadaran-kesadaran teknis, sampai masuk sedikit yaitu mesin akal sampai kemudian naluri, gelombang ruhani, “hingga tajalli (manifestasi) Allah di dalam jiwa Anda.”

Jika konsisten dengan pandangan dunia Islam ini, dikotomi kesalehan individual dan kesalehan sosial juga terlalu dangkal. Bagi Cak Nun, jika perilakunya merusak di ranah sosial, sejatinya tidak layak disebut saleh meski secara lahir terlihat saleh. Karena orang saleh (secara individu) akan saleh secara sosial. Tidak berbeda dengan dikotomi Muslim yang zalim dan kafir yang adil.

“Kalau ada pemimpin yang zalim ya tidak bisa disebut Muslim dong. Dan kalau ada pemimpin yang adil, ya tidak bisa disebut kafir.

Guru Bangsaku. Gus Dur dan Candanya

Almarhum Nurcholis Madjid (Cak Nur) sambil bercanda pernah berkata: “Hal yang misterius dan hanya Tuhan yang tahu, selain jodoh, maut, dan rezeki, adalah Gus Dur”.


Gus Dur -allah yarham,- memang begitu misterius, hingga sikap, ucapan dan kebijakan beliau sering disalah pahami orang lain, bahkan oleh sebagian warga Nahdhiyin (NU) sendiri. Apalagi musuh-musuh beliau menilai bahwa ucapan dan sikap beliau tidak masuk akal, malah mereka “men-cap” beliau sebagai orang gila.

Namun belakangan terlebih setelah Gus Dur wafat, sikap dan ucapan beliau yang dianggap tidak masuk akal ternyata terbukti benar. Seperti yang diceritakan para tokoh Vatikan, saat Gus Dur menjabat sebagai ketua PBNU, beliau mengunjungi Vatikan. Dan sambil guyon Gus Dur berkata bahwa beliau akan datang lagi ke Vatikan tapi tidak sebagai ketua PBNU tapi sebagai seorang Presiden.

Ucapan Gus Dur hanya dianggap candaan oleh para tokoh Vatikan. Dan ternyata pada kunjungan selanjutnya membuat tokoh Vatikan terkaget-kaget, Gus Dur memang datang sebagai seorang Presiden. Itulah mengapa beliau dijuluki “santo” oleh para tokoh Vatikan.

Saat Gus Dur diminta pertanggung jawaban oleh DPR, dengan gagah berani beliau datang ke gedung bundar dan menghadapi anggota DPR. Di hadapan mereka semua dengan lantang Gus Dur mengatakan bahwa DPR seperti Taman Kanak-kanak.

Saat itu banyak anggota DPR yang tersinggung dan menuding Gus Dur gila. Tapi pada kenyataan yang kita lihat, ternyata benar apa yang dikatakan Gus Dur. Anggota DPR senang ketika jalan-jalan dan tidur ketika sidang, senang rebutan proyek, hobbynya meminta-minta dari #papa_minta_saham, #mama_minta_softex dan sekarang  #si_papa_malah_minta_kasur dan masih banyak lagi.

Pak Sutarman adalah ajudan Gus Dur, dan Gus Dur pernah berkata pada Pak Sutarman: “Nanti Pak Tarman akan jadi Kapolda Metro setelah itu Pak Tarman akan menjadi Kapolri.” Pada saat itu Pak Sutarman hanya tertawa karena mengganggap itu tidak akan terjadi, bahkan bermimpi menjadi Kapo

ri-pun belum pernah. Dan tepat pada tanggal 23 Oktober 2013, Pak Sutarman resmi dilantik menjadi Kapolri oleh Presiden SBY.

Pada 8 Januari 2006, Gus Dur pernah mampir ke rumah dinas walikota Solo untuk bertemu dengan beberapa tokoh agama. Saat itu Bung Joko baru 6 bulan menjabat walikota. Dan pada hari itu Gus Dur berkata: “Siapapun yang dikehendaki rakyat, termasuk Pak Jokowi ini, kalau dia jadi Wali Kota yang bagus, kelak juga bisa jadi presiden.” Bung Joko hanya senyam-senyum pada waktu itu.

Di pagi hari, Gus Dur meminta Kang Said (KH. Aqil Siradj) untuk menyediakan air putih dan roti tawar untuk sarapan. Lalu Gus Dur meminta Kang Said untuk membacakan kitab Ihya’ Ulumuddin. Baru dibacakan dua paragraf Gus Dur sudah mendengkur. Lima menit kemudian beliau terbangun dan berkata pada Kang Said: “Sampean akan menjadi ketua PBNU di atas usia 55 tahun”.

Pada Muktamar NU ke 30, Kang Said di usia 46 tahun mencalonkan diri menjadi ketua PBNU bersaing dengan KH. Hasyim Muzadi. Dan yang terpilih pada saat itu adalah KH. Hasyim. Dan pada muktamar NU ke 32, Kang Said mencalonkan diri lagi menjadi ketua PBNU dan beliau terpilih tepat di usia 56 tahun.

Setelah gagal menjadi gubernur Bangka Belitung, Koh Ahok bertemu Gus Dur dan Gus Dur berkata: “Kamu akan menjadi gubernur”.

Guru Besar UGM Profesor Suhardi, pernah menjadi Dirjen di Departemen Kehutanan di era Gus Dur. Di ruang ICCU berapa hari sebelum Gus Dur wafat. Gus Dur berkata pada Pak Hardi: “Pak Hardi saya titip bangsa ini. Tolong ikut dikawal Pansus Century di DPR. Besok Kamis saya akan pulang ke Tebuireng dengan diantar banyak orang. Saya sudah ditunggu ayah saya di sana,”

Dan masih banyak lagi kisah misterius tentang Gus Dur. Dan yang membuat tertawa adalah perkataan Gus Dur pada Fidel Castro: “Saya menjadi presiden dipilih oleh orang-orang gila”. Sekarang kita saksikan sendiri bagaimana perilaku mereka yang memilih Gus Dur pada masa itu. [Gusdurfiles.Com

SI MBAH MAIYAH

Catatan Setelah Tiga Hari Bermaiyahan)

Si Mbah

Perempuan muda yang duduk paling depan kanan panggung itu tampak menangis. Sapu tangan yang diusapnya berulang-ulang tak mampu menahan curah air matanya. Wajahnya memerah.

Dia tidak sendiri. Ada banyak orang lagi saat itu yang sesenggukan menangis. Bibir-bibir mereka bergerak-gerak ikut melantun. Larut dalam kesahduan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun yang tengah senandungkan Salawat Alfu Salam dan berlanjut Sidnan Nabi.

Zulfaisal Putera saat berkunjung ke Kadipiro.
Zulfaisal Putera saat berkunjung ke Kadipiro.

Saya yang menyaksikan pemandangan itu dari atas panggung ini juga ikut terbawa keharuan yang sama. Sambil menikmati dan meniru lantunan syair-syair pujian kepada Rasullullah itu, pikiran saya terbawa kepada suasana pengajian Sekumpul yang dipimpin oleh almarhum Guru Zaini Ganie belasan tahun silam. Saat itu, ribuan orang bermajelis dua kali seminggu, selain untuk mendengarkan nasihat guru, juga bersama-sama bersalawat kepada baginda Rasul.

Atmosfer salawat guru Sekumpul itulah yang terasa saat acara Banjarmasin Bersyukur dalam rangka Hari Jadi ke-490 Kota Banjarmasin digelar. Cak Nun dengan warna suaranya yang khas dan indah  mampu memusatkan pikiran dan rasa penyaksi kepada satu titik : cinta Allah dan Rasulnya. Dan bukan hanya dilakukan Cak Nun saat pentas di Banjarmasin, yang masyarakatnya memang punya keterkaitan emosional dengan guru Sekumpul, tetapi juga di pengajian-pengajian lain di banyak tempat.

Setiap bulan, ada 5 pengajian rutin digelar Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Pertama, pengajian Phadangmbulan di Jombang tiap tanggal 15 bulan Hijriah atau saat purnama. Kedua, Mocopat Syafaat di Jogjakarta tiap 17 Masehi. Ketiga, Kenduri Cinta di TIM Jakarta tiap Jumat minggu kedua. Keempat, Gambang Syafaat tiap  25 Masehi. Dan kelima, Bambang Wetan di Surabaya, tiap 17 Hijriah. Juga puluhan pengajian lainnya di berbagai daerah. Di tempat-tempat itu, salawat nabi guru Sekumpul selalu dikumandangkan.

Itulah salah satu daya tarik pengajian yang digelar Cak Nun sejak 90-an. Dia sangat pandai menggerakan hati jamaah untuk lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya melalui salawat. Dia juga mampu mengisi ruang pikir dan hati dengan asupan ilmu dan hikmah, dari soal politik, ekonomi, dan agama. Semua disampaikan dalam tuturan dan kemasan seni yang mudah dicerna, oleh orang awam sekali pun. Tak heran jika pengajiannya punya banyak nama: tadabur atau perenungan, sinau atau pencerahan, atau ngaji bareng. Dari pengajian ini, Cak Nun punya pengikut yang militan: maiyah.

Maiyah bermakna kebersamaan. Nama ini dijadikan semacam sebutan bagi pengikut pengajian Cak Nun, ke mana dan di mana pun diadakan. Ada jutaan orang yang menyatu dalam simpul-simpul Maiyah di berbagai daerah. Dengan swadaya, mereka ‘diperjalankan’ dari kota ke kota, dan pulau ke pulau, bahkan menyeberang lautan, hanya untuk melingkar dalam pengajian Cak Nun. Saya menemukan beberapa orang militan semacam ini di banua. Mereka menyunting sedikit waktu untuk beredar dua sampai tiga tempat pengajian dalam sekali perjalanan.

Sekali pun titik sentral melingkar para jamaah Maiyah ini adalah Cak Nun, tetapi mereka tidak mengkultuskannya. Simbah, demikian biasa mereka menyebut, hanyalah guru, yang membagi pengetahuannya akan berbagai hal kepada murid-muridnya. Bagi mereka, bermaiyah bersama Cak Nun sama seperti sebuah proses recharger mind and soul. Ada semacam interaksi energi positif untuk terus berproses dalam meningkatkan pemahaman pentingnya  Allah dan agama dalam kehidupan.

Cak Nun sendiri tak mengistimewakan diri. Di setiap pengajiannya, dia berusaha tetap sama berkedudukan dan tak berjarak dengan jamaah. Misalnya, syarat tinggi panggung untuk pentasnya hanya sekitar 40-50 cm; jamaah langsung berhadapan dengannya tanpa dipisahkan oleh barisan pejabat yang biasanya duduk paling depan; dan semua lesehan. Cak Nun juga selalu membagi tugas bicara dan bersenandung dengan rekan di kiri kanannya dan membuka ruang tanya-jawab. Suasana semacam ini jarang ditemukan dalam pengajian-pengajian layaknya.

Cak Nun bukan sekadar sebuah fenomena melainkan juga keniscayaan. Di tengah krisis kepemimpinan, krisis idola, krisis kepercayaan akan tokoh spiritual dan motivator yang berkedok agama, kehadiran Cak Nun sejak belasan tahun lalu telah membuktikan sebuah keajekan keteladanan. Dia tidak bercokol di pusat kekuasaan, tetapi menyusur di tepi tepi kehidupan keseharian bersama rakyat kebanyakan. Tak heran jika kehadiran Simbah ini selalu dirindukan dan menyedot banyak jamaah untuk duduk bersama berjam-jam memahami hakikat kehidupan.

Membangkitkan Nusantara dengan Kearifan Lokal

Wahai saudaraku. Kehidupan peradaban dunia kini terus bergerak menuju kehancurannya sendiri. Sehingga janganlah engkau terlalu mendambakan kepemilikan, sebab tidak menutup kemungkinan hal itu yang akan membinasakanmu. Jadilah orang yang berakal sehat dengan terus mengendalikan perilakumu sehari-hari. Puaslah dengan ketentuan yang telah Tuhan tetapkan untukmu dan jangan terlalu berharap lebih dalam kenikmatan duniawi ini. Sebab, segala sesuatu tentang duniawi itu hanya sementara dan penuh dengan tipu daya yang menyesatkan.

Hendaklah sebagian besar permohonanmu itu adalah kebaikan, ampunan, kesehatan dan keselamatan dari-Nya. Engkau tidak perlu banyak meminta kepada-Nya dan hindarilah pembangkangan diri terhadap aturan-Nya, karena Dia akan mudah menghukum dan membinasakanmu. Jangan pula bersikap sombong kepada-Nya dan kepada makhluk-Nya karena kemampuan, harta dan kekuasaanmu, sebab semuanya itu hanyalah pinjaman dari-Nya saja. Engkau tidak bisa memiliki dan menguasai apa pun yang kau anggap milikmu, karena tiada yang bisa memiliki apapun kecuali Dia; Dzat Allah SWT saja.

Ya. Engkau bisa celaka jika lisanmu Muslim sementara hatimu tidak; perkataanmu indah dalam Islam tetapi perbuatanmu tidak; dan di tempat ramai engkau tampil sebagai orang shalih padahal di tempat sepi (jika sendirian) sebaliknya. Ketahuilah, jika dirimu menunaikan shalat, puasa, zakat, dakwah dan mengerjakan semua amal kebajikan lainnya dengan tidak ikhlas karena Allah SWT, berarti dirimu telah bersikap munafik. Suatu kondisi yang lebih buruk dari kekafiran dan kemusyrikan.

“Ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kalian kepada-Ku dan janganlah kalian menjadi orang-orang yang ingkar”(QS. Al-Baqarah [2] ayat 152)

Sungguh, zaman sudah semakin tidak karuan dan orang-orang gemar melakukan kemaksiatan. Dimana-mana terjadi kekufuran dan kezaliman. Sehingga bersegeralah kalian bertobat dan mempersiapkan dirimu dari sekarang dengan baik. Sebab, tidaklah mungkin Tuhan tetap saja membiarkan Bumi ini dihuni oleh makhluk perusak dan senang dengan kerusakan. Artinya, tidak menutup kemungkinan bahwa azab Tuhan yang perih itu akan datang dalam waktu dekat. Sementara jika engkau tidak dalam keadaan Muslim yang sejati, maka tiada bagi untuk menghindar, sebab engkau telah masuk ke dalam golongan yang kufur dan ingkar kepada-Nya.

Sungguh, zaman sudah semakin tidak karuan dan orang-orang gemar melakukan kemaksiatan. Dimana-mana terjadi kekufuran dan kezaliman. Sehingga bersegeralah kalian bertobat dan mempersiapkan dirimu dari sekarang dengan baik. Sebab, tidaklah mungkin Tuhan tetap saja membiarkan Bumi ini dihuni oleh makhluk perusak dan senang dengan kerusakan. Artinya, tidak menutup kemungkinan bahwa azab Tuhan yang perih itu akan datang dalam waktu dekat. Sementara jika engkau tidak dalam keadaan Muslim yang sejati, maka tiada bagimu untuk menghindar, sebab engkau telah masuk ke dalam golongan yang kufur dan ingkar kepada-Nya.

Oleh karena itu, kaum Mukmin yang sejati adalah dia yang di dalam amal-amalnya tidak terkena bujuk rayu duniawi dan riya`. Mereka adalah kalangan yang penuh semangat dalam keyakinan, bertauhid, sabar, ikhlas dan istiqomah dalam aturan Allah SWT. Mereka tidak berlebihan dalam menikmati kesenangan duniawi ini – hanya sebatas kendaraan saja. Karena baginya akherat adalah tujuan yang sebenarnya. Yang senantiasa mereka rindukan dalam tulusnya amal kebajikan sehari-hari. Sehingga mereka pun menjadi pribadi yang penuh dengan semangat cinta dan mencintai siapa pun.

Pun, Mukmin sejati tetap akan bersama dunia – sekedarnya saja – dan para penghuninya dalam kebaikan, lalu bersama akhirat dan ahlinya dengan kecintaan, sehingga akan bersama Tuhan Yang Menguasai dunia dan akherat dengan benar. Hati mereka selalu terkait meski berbeda tempat, bahasa dan bangsa. Mereka senantiasa menghubungkan dirinya kepada Tuhannya dalam waktu siang dan malamnya. Sehingga jika mereka terus menaiki anak tangga makrifat, maka di antara mereka akan ada yang menjadi Wali yang mewarisi ilmunya para Nabi.

Ya. Para Wali yang sejati itu telah buta, tuli dan bisu terhadap makhluk. Jika hati mereka telah dekat dengan Allah SWT, mereka tidak akan mendengar selain firman-Nya, tidak melihat kecuali Wajah-Nya, dan tidak berbicara melainkan sesuai dengan tuntunan-Nya. Mereka senantiasa diliputi oleh rasa takjub, cinta dan sekaligus takut kepada-Nya. Sehingga mereka pun tidak condong kepada satu golongan dan mazhab tertentu, karena baginya hanya Islamlah agama yang sejati. Yang murni diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW saja. Mereka pun penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang yang murni, sehingga para jin dan manusia yang berilmu senang melayani dan bersamanya.

Selain itu, para Wali Allah tidak disibukkan dengan omongan orang-orang dan tidak memerlukan pujian dari siapa pun. Mereka tidak membutuhkan tempat khusus di masyarakat, karena telah berada di dalam satu lembah yang disediakan untuk mereka saja. Satu lembah yang tersembunyi yang hanya diketahui oleh kalangan mereka saja. Sehingga mereka selalu diberi makanan dan minuman keutamaan dari-Nya. Mereka juga tetap menyeru manusia pada kebenaran hakiki meski tidak banyak yang mengikutinya. Bahkan mereka itu tidak dikenali saat hadir dan tidak dicari saat tidak ada. Mereka hanya memuja Tuhannya, cukup dengan-Nya dan tidak menginginkan pujian dari makhluk apa pun.

Dari Abdullah Ibnu Umar Ibnu Khattab RA, katanya: “Pada suatu kali Umar mendatangi tempat Mu’adz ibnu Jabal RA, kebetulan ia sedang menangis, maka Umar berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Mu’adz?” Kata Mu’adz: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:“Orang-orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang bertakwa yang suka menyembunyikan diri, jika mereka tidak ada, maka tidak ada yang mencarinya, dan jika mereka hadir, maka mereka tidak dikenal. Mereka adalah para imam petunjuk (Wali) dan para pelita ilmu.” (HR. Nasa’i, Al-Bazzar dan Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah jilid I hal. 6)

Untuk itu saudaraku. Tidak wajib bagimu untuk menjadi Wali – karena hal itu tidak bisa sembarangan dan khusus, tetapi jadilah Muslim yang sejati dan tinggalkanlah setiap perbuatan yang tidak mendekatkan dirimu kepada Allah SWT. Buang semua ucapan yang tidak bermanfaat dan sudahilah tindakan yang hanya mengikuti nafsu dan keinginanmu pada dunia saja. Karena hal itu hanya akan mengantarkan dirimu pada gerbang kehancuran dan kehinaan. Dan persiapkan dirimu sebaik mungkin dari sekarang, terutama dalam iman dan Islam yang sesungguhnya. Niscaya dengan begitu engkau pun akan selamat saat ketentuan Allah SWT (laknatullah) datang menimpa tempat tinggalmu.

Yogyakarta, 05 Maret 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)